Tampilkan postingan dengan label waralaba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label waralaba. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Juni 2012

Laba Klinik Kecantikan Kian Cantik



Menjadi cantik merupakan impian hampir seluruh wanita. Banyak cara dilakukan oleh kaum hawa untuk mewujudkan mimpinya. Mulai dari mengonsumsi obat, berpantang makanan tertentu, dan pergi ke klinik kecantikan. Cara terakhir ini, sepertinya menjadi pilihan banyak wanita.

Tak heran jika klinik kecantikan berkembang menjadi bisnis yang potensial. Tengok saja beberapa pewaralaba klinik kecantikan yang menjalani bisnis ini. Dalam setahun terakhir, bisnis mereka berkembang, baik dari sisi pendapatan maupun penambahan jumlah mitra dan gerai.

Esri Medical Aesthetic, Martha Tilaar Salon & Day Spa, dan Pure Beauty Care adalah beberapa waralaba yang klinik kecantikan dan perawatan tubuh yang mengecap pertumbuhan. Meski, pemain baru bermunculan, mereka tetap yakin, prospek bisnis ini masih cerah.


• Esri Medical Aesthetic

Berbeda dengan waralaba salon kecantikan pada umumnya, Esri Medical Aesthetic mengedepankan konsep klinik kecantikan dari sisi medis. Klinik ini didukung oleh dokter bersertifikat dari Persatuan Dokter Estetik Indonesia (PERDESTI).

Susana Seriani, pemilik Esri Medical Aesthetic mengatakan, kini pihaknya telah memiliki empat mitra, yang tersebar di Ciledug, Ciputat, Makassar dan Surabaya, dan dua calon mitra baru. Padahal saat KONTAN mengulas waralaba ini akhir Maret 2010, Esri belum memiliki mitra.

Hanya saja, paket investasi Esri juga mengalami kenaikan. Jika pada awalnya, Esri menawarkan paket kerja sama senilai Rp 125 juta, kini meningkat menjadi Rp 135 juta. "Kenaikan Rp 10 juta ini karena ada pengembangan sistem komputerisasi pengelolaan klinik secara online. Jadi, mitra bisa terhubung dengan pusat," tandasnya.

Dari nilai investasi tersebut, mitra memperoleh seluruh peralatan lengkap untuk memulai usaha, seperti electromedic equipment dan electroesthetica equipment, termasuk produk perawatan kulit senilai Rp 35 juta.

Susana bilang, dalam sehari klinik ini bisa menjaring 10-15 pasien. Dengan biaya perawatan berkisar Rp 50.000-Rp 300.000 dan harga obat dari Rp 50.000 hingga Rp 75.000. Ia pun mengklaim, mitra bisa meraup omzet hingga Rp 20 juta per bulan. Dari omzet itu, mitra bisa mengantongi keuntungan hingga 50%, sehingga perhitungan masa balik modal akan tercapai dalam waktu 1-1,5 tahun.

Dengan kesuksesannya menjaring empat mitra dan dua calon mitra itu, Susana optimistis bisa memenuhi target tahun depan, yakni menambah enam hingga sepuluh mitra.


• Martha Tilaar Salon & Day Spa

Selain membuka salon dan klinik kecantikan sendiri, Martha Tilaar Salon & Day Spa menawarkan program waralaba dan kemitraan spa. Ketika KONTAN mengulas waralaba Martha Tilaar Salon & Spa pada September 2008, jumlah waralabanya mencapai 33 gerai. Kemudian pada Oktober 2010, jumlah waralabanya bertambah menjadi 42 gerai. Kini, Martha Tilaar Salon & Day Spa sudah memiliki 46 cabang, baik di dalam maupun luar negeri, seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Ukrania dan Jepang.

Direktur PT Cantika Puspa Pesona Wulan Tilaar Widarto optimistis bisnis kecantikan akan makin tumbuh. Maklum, tingginya tingkat kesibukan dan stres, serta gaya hidup perkotaan membuat bisnis salon dan spa terus berkembang pesat. Apalagi, penggemar layanan salon dan spa tak terbatas pada perempuan, melainkan juga para lelaki.

Di Indonesia, Martha Tilaar Salon & Day Spa memiliki cabang di beberapa kota seperti Batam, Jakarta, Lampung, Palangkaraya, Pontianak, Balikpapan, Samarinda, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain itu masih ada beberapa di wilayah Sulawesi dan Sumatera. Di Sumatra, Martha Tilaar membukagerai di Aceh dan Riau. Sedangkan di Sulawesi, Martha Tilaar baru membuka satu gerai di Makassar. "Mungkin kami akan membuka beberapa spa di Indonesia Timur," kata Wulan.

Ia melihat adanya peluang dan potensi untuk bisnis salon kecantikan tumbuh di sana. Sebab, gaya hidup masyarakat di Indonesia Timur sudah mulai berkembang.

Membuka spa yang sudah ternama seperti Martha Tilaar Salon & Spa memang terbilang mahal. Bila berminat, terwaralaba harus menyiapkan modal awal Rp 1,5 miliar. Franchise fee sebesar Rp 275 juta untuk lima tahun. Nilai biaya waralaba ini belum berubah sejak tahun 2008.

Demikian pula dengan biaya royalti. Besar royalti yang harus dibayar terwaralaba masih sama, yakni sekitar 5% dari total omzet. Untuk membuka usaha spa ini, terwaralaba perlu menyediakan lahan dengan luas minimal 250 meter persegi.


• Pure Beauty Care

Klinik Pure Beauty Care kini memiliki tiga mitra yang tersebar di Medan, Serpong dan Jambi. Klinik yang khusus bergerak di bidang perawatan kulit muka dan tubuh ini berdiri pada 2008 lalu. Sampai saat ini, mereka belum mengubah nilai paket investasi yang ditawarkan untuk investor Pure Beauty Care.

Untuk menjadi terwaralaba, Pure Beauty Care mengenakan biaya waralaba sebesar Rp 120 juta untuk masa kontrak empat tahun. Mereka menawarkan keringanan pembayaran, dengan membayar setengah dulu saat penandatanganan nota kesepahaman, sambil menunggu renovasi tempat. Begitu renovasi tempat selesai, terwaralaba harus segera melunasi biaya franchise.

Setelah itu, nantinya terwaralaba juga harus membayar royalty fee sebesar 5% dari omzet per bulan. Asyiknya, terwaralaba baru membayar royalty fee setelah mereka balik modal. "Kami perkirakan masa balik modal itu setelah satu tahun usaha berjalan," kata Irene Yasmintiah, Pengelola PT Pure Beauty Care Indonesia..

Dengan mengusung produk perawatan kulit, Pure Beauty Care yang memakai bahan baku alami dari ekstrak buah-buahan, klinik kecantikan Pure Beauty Care menawarkan perawatan yang sehat. Produk perawatan kulit Pure Beauty Care langsung didatangkan dari Belanda. "Semua bahan perawatan dan peralatan kita impor," jelas Irene.

Perusahaan ini membidik peluang pasar pada segmen kelas menengah. Irene mengatakan, alasan pemilihan kelas menengah itu karena klinik perawatan kulit yang menyasar kelas atas sudah penuh dengan beberapa brand sudah cukup kuat, seperti Natasha dan Erha. "Pasar masih tetap terbuka luas," kata Irene.

Klinik Pure Beauty Care ini menawarkan produk untuk mengatasi masalah jerawat, flek, keriput, pemeliharaan kulit, alergi kulit, dan kekeringan kulit. Bahkan tidak hanya itu, Irene bilang, klinik ini juga menawarkan perawatan bagi konsumen yang mengalami permasalahan seputar bentuk tubuh.

Untuk menjadi mitra, hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan bisnis ini adalah kompetensi dalam bidang kecantikan. Sang franchisee harus memiliki kecintaan dan ketekunan di bidang ini. "Bisnis kecantikan berbeda dengan bisnis makanan, butuh kesabaran," ujar Irene.

Sampai saat ini, mereka sudah memiliki tiga mitra baru. Maklum, sebagai pendatang baru, Pure Beauty Care lebih memfokuskan diri untuk membangun brand image dengan konsep yang Pure Beauty Care.

Dengan brand image yang kuat, Irene yakin bisa mendorong calon pasien untuk berani mencoba menggunakan produk dari Pure Beauty Care. "Maklum, menggunakan produk kecantikan itu tidak seperti mencoba makanan atau baju," kata Irene.
***
 

Senin, 20 Februari 2012

6 Sebab Gagalnya Waralaba

Banyak orang menyangka berbisnis waralaba merupakan langkah pasti menuju sukses. Tapi pada kenyataannya, banyak alasan yang membuat bisnis waralaba berakhir tidak seperti yang diperkirakan.

Dalam artikel yang dikutip dari investopedia, terdapat beberapa pertimbangan yang bisa anda kaji sebelum terjun langsung ke bisnis waralaba. Kenali 6 penyebab kenapa bisnis waralaba mengalami kegagalan.

1. Modal awal dan royalti waralaba yang cukup tinggi

Modal awal dan franchise fee bisa sangat mempengaruhi laba penyewa bisnis waralaba. Sebagai contoh, jika anda ingin membuka waralaba McDonald's, anda harus punya lokasi sendiri (sewa maupun milik), belum lagi royalti waralaba sekitar Rp 405 juta (US$ 45.000) untuk memegang hak waralaba selama 20 tahun, setelah masanya habis maka bisa diperpanjang.

Jika dihitung-hitung secara total, biaya yang anda harus keluarkan untuk membuka sebuah restoran cepat saji McDonald's berkisar antara Rp 4,5 miliar sampai Rp 14,4 miliar.

Yang paling merepotkan adalah, franchise fee yang harus disetorkan per tahun. Setiap tahun, pemegang pemegang waralaba harus menyetorkan 12,5% omzetnya ke pemilik waralaba. Jadi, berapapun omzet anda atau sebaik apapun bisnis, anda akan terus terikat dengan peraturan ini.

Ongkos sewa tahunan ini merupakan syarat paling standar dalam dunia waralaba. Bahkan, Burger King meminta tambahan 4,5% jika ongkos waralabanya mencapai Rp 450 juta, sama seperti Dunkin' Donuts yang meminta tambahan 5,9% untuk franchise fee di kisaran Rp 360-720 juta tergantung lokasi.

Dikurangi gaji karyawan, uang makan dan pajak, bisa terlihat bahwa memegang lisensi waralaba tidak semudah seperti kelihatannya.

2. Biaya bahan baku yang mahal

Untuk anda bisa tetap berbisnis, kebanyakan pemilik waralaba memaksa para pemegang lisensinya untuk membeli bahan baku dari pensuplai yang biasanya masih ada hubungan 'spesial' dengan si pemilik waralaba. Biasanya, harga yang ditetapkan oleh pensuplai ini lebih tinggi ketimbang harga pasar.

Bahkan, beberapa pemilik waralaba makanan cepat saji mematok 5-10% lebih tinggi dari harga pasar untuk produk-produk seperti sayuran, tomat atau bahan baku lainnya. Padahal, sayuran tetap sayuran yang harganya biasanya hampir sama, tapi ini menjadi salah satu cara lain si pemilik waralaba menggenjot laba.

Jangan sekali-sekali anda membatalkan pesanan bahan baku dari si pemilik waralaba, karena bukan tidak mungkin ia kan memutus kontrak anda di tengah jalan sehingga anda tak lagi bisa berbisnis.

3. Minimnya pendanaan

Kebanyakan pemegang lisensi waralaba tidak punya akses ke pendanaan yang baik. Jadi, jika butuh tambahan modal, kebanyakan pemegang lisensi waralaba harus merogoh koceknya sendiri. Bisa dibilang, pemegang lisensi waralaba bergantung pada diri sendiri.

Beberapa pemilik waralaba mengetahui hal ini dengan baik sehingga memberikan opsi cicilan untuk franchise fee, modal awal, bahan baku dan peralatan untuk memulai waralaba. Situasi seperti ini biasanya lebih menarik para calon pemegang lisensi waralaba.

4. Minimnya kontrol lokasi

Beberapa waralaba punya aturan untuk tidak terlalu banyak membuka tokonya di sebuah kota demi menghindari saturasi pasar dan omzet yang anjlok. Akan tetapi banyak juga waralaba yang membuka toko sebanyak mungkin di sebuah kota demi menggenjot penjualan.

Itulah mengapa bukanlah sesuatu yang aneh jika anda melihat lima gerai McDonald dalam radius 8 km karena perusahaannya berusaha untuk meraup setiap uang yang ada di wilayah tersebut. Pemilik waralaba memang dapat untung banyak, tapi yang menderita adalah gerai si pemegang lisensi waralaba, karena tiap muncul satu waralaba di lokasi yang sama, maka omzetnya bisa turun sampai setengah.

5. Kurang kreatif

Sebauh waralaba biasanya mewajibkan keseragaman. Mulai dari dekorasi toko, papan reklame, produk yang ditawarkan sampai seragam pelayannya harus sama. Untuk orang yang menyukai kreatifitas, ini bisa membuat frustasi.

Jadi, jika anda yang terbiasa menjadi bos bagi diri sendiri, keseragaman ini mungkin cukup sulit dilakukan. Mungkin anda tidak cocok untuk berbisnis waralaba.

6. Pemilik waralaba kurang mengenal daerah baru

Anda pasti sering mendengar kalau kunci sukses dalam berbisnis adalah lokasi, lokasi, lokasi. Pasalnya, lokasi memang sangat mentukan sukses atau gagalnya sebuah bisnis.

Intinya, jika anda tidak bisa menemukan lokasi yang tepat untuk membuka waralaba, anda pasti akan kesulitan, karena si pemilik waralaba pun tidak bisa banyak membantu anda dalam menentukan lokasi.

Contohnya waralaba pizza. Anda tidak bisa dengan mudah membuka gerai pizza di sebuah daerah yang cukup ramai penduduk. Tetapi, anda juga harus perhatikan tingkat usia di lokasi tersebut.

Salah besar jika anda membuka gerai pizza di lingkungan ramai tapi isinya orang tua. Lebih baik anda cari lingkungan yang lebih sepi tapi isinya anak muda semua.

Riset seperti ini lah yang biasanya tak dimiliki oleh si pemilik waralaba. Si pemegang lisensi waralaba lah yang bertugas untuk melakukan riset ini sendirian tanpa bantuan kantor pusat.

Kesimpulan:

Menjalankan bisnis waralaba adalah sebuah keputusan serius yang harus dilaksanakan dengan hati-hati. Sebelum anda menyewa waralaba, banyak belajarlah mengenai perusahaan yang jadi target, begitu pula dengan produk dan lokasinya. Karena bahkan dengan produk dan lokasi yang baik, belum tentu anda bisa meraup laba. Jadi, pastikan adan tahu risikonya sebelum membuka waralaba.
***

(Sumber : detikcom)


Rabu, 15 Februari 2012

Potensi Bisnis Makanan Ayam Taliwang Masih Mengembang

Bisnis makanan daerah kian bergairah di Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Banyaknya perantau yang datang ke ibu kota menjadi pasar potensial bagi pengusaha makanan daerah. Maraknya liputan kuliner di televisi juga mendorong rasa penasaran sejumlah orang untuk mencicipi beragam makanan khas daerah tertentu.

Salah satu waralaba makanan daerah yang mulai ditawarkan pada Oktober 2011 ini adalah Ayam Taliwang Senggigi Lombok. Mulai membuka kedai ayam taliwang pada 2001, kini Sesil Indra Kurnia, pemilik merek Ayam Taliwang Senggigi Lombok, sudah memiliki tujuh gerai yang tersebar di Jabodetabek.

Mulai tahun ini, ia ingin mengembangkan kedainya yang bernaung di PT Sera Lestari Global, hingga ke seluruh Indonesia. "Saya ingin lebih banyak orang merasakan kelezatan ayam taliwang," ujarnya berpromosi.


Investasi Rp 150 juta

Menurut Indra, kelebihan ayam taliwang di kedainya terletak pada dominasi rasa pedas. "Kami ingin mengusung sensasi pedas khas Lombok," ujarnya. Sekitar 80% dari menu yang ditawarkan di kedai Ayam Taliwang Senggigi Lombok menggunakan bumbu cabai.

Pada waralaba ini, Sera Lestari Global baru menyiapkan satu paket investasi saja. Mereka menawarkan paket resto dengan nilai investasi sebesar Rp 150 juta.

Indra menjelaskan, dengan membeli paket tersebut, terwaralaba tinggal menyiapkan lokasi usaha. Semua perlengkapan berjualan, pelatihan, promosi, dan bahan baku untuk operasional awal sudah disiapkan. "Konsep gerainya fastfood minimalis," ujarnya.

Selain ayam, gerai Ayam Taliwang Senggigi Lombok juga menyediakan menu bebek, ikan, dan udang yang berbalur bumbu taliwang. Dengan harga jual berkisar Rp 10.000 hingga Rp 30.000 per porsi, terwaralaba akan memperoleh omzet sekitar Rp 3 juta per hari atau Rp 90 juta per bulan.

Selama masa kerja sama lima tahun, Indra mengutip royalty fee 2% dari omzet tiap bulan. Ia pun menghitung, balik modal usaha ini antara 14 bulan hingga 18 bulan.

Dengan konsep waralaba ini, saban bulan. Indra berharap mampu menggandeng dua mitra baru. Ia pun optimistis dengan prospek usaha ini, mengingat menu ayam taliwang, khususnya di kota-kota besar, belum banyak yang disajikan dalam bentuk resto. "Dengan konsep resto, kami memiliki kelebihan pelayanan cepat dan memuaskan, serta suasana yang nyaman untuk semua pelanggan," kata Indra berpromosi.

Pengamat waralaba Khoerussalim Ikhsan melihat bahwa tawaran waralaba Ayam Taliwang Senggigi lombok dalam konsep resto dengan suasana modern ini cukup menarik. Namun, ia sedikit ragu soal harapan untuk bisa merangkul semua kalangan sebagai konsumen ayam taliwang. "Selama ini makanan tradisional dari sebuah daerah sifatnya segmented dan tak meledak di pasaran," ujarnya.

Ia menyarankan kepada pemilik waralaba ini untuk mencari cara yang bisa memikat semua kalangan pada sajian khas ayam taliwang ini. Termasuk dari kaum muda dan anak-anak yang cenderung masih menyukai makanan modern. "Ini tantangan besar yang mesti dilakukan semua waralaba yang mengusung makanan tradisional," pesan Khoerussalim.
***

(sumber : kontan online)