Tampilkan postingan dengan label entrepreneur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label entrepreneur. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 April 2012

3S, Kunci Sukses Entrepreneur di 2012

Tak bisa dipungkiri, penjualan dari individu ke individu atau peer to peer yang mengandalkan rekomendasi sangat dipercaya oleh orang. Rekomendasi seseorang menjadi salah satu keberhasilan sebuah produk bisa diterima masyarakat. Kini, hal tersebut juga berlaku di sosial media. Pengusaha startup di tahun depan, harus memanfaatkan momentum ini untuk bisa meraup konsumen.

Demikian disampaikan Danny W. Wirianto, co-founder Mind Talk yang menjadi pembicara dalam seminar Sparx Up "Gamification and Convergence" di International Design School, Jakarta, Jumat (23/12/2011). "Yang akan menjadi tren adalah 3 S, yakni Social, Share, and Speed," jelasnya.

"Social" adalah bagaimana seseorang terhubung dengan orang lain dan saling berbagi. "Share" adalah bagaimana seseorang membagikan pengalamannya kepada orang lain, melalui teks, foto, video, apapun itu, melalui jejaring sosial. "Speed" adalah bagaimana jejaring sosial bisa memberikan informasi yang sangat cepat, melebihi kecepatan dari wartawan menuliskan berita.

Hal yang harus menjadi bagian yang harus dikembangkan oleh pengusaha startup di tahun 2012, yakni menjaga hubungan sosial dengan masyarakat, sharing informasi yang dibutuhkan masyarakat, dan memiliki kecepatan dalam menanggapi keluhan masyarakat mengenai produk atau layanan yang ditawarkan.

Selain itu, masyarakat juga menyukai penghargaan. Oleh karena itu, buatlah sebuah perusahaanstartup yang bisa menghibur dan menjadi sesuatu yang dicari oleh masyarakat. "Kita sudah stress dengan pekerjaan, kehidupan sudah sulit, lalu baca berita isinya berita buruk semua, tambah stress orang-orang. Anda tahu bagaimana Foursquare bisa lebih populer dari situs check-in lainnya? Karena ada badge, ada penghargaan yang membuat orang lain bangga walau cuma check-in doang," jelas Danny.

Kemudian menurut Danny, mengapa teknik pemasaran dengan gamification akan laku di tahun depan? karena kebutuhan masyarakat akan hiburan dan penghargaan juga besar. Maka, bisa memenangkan sebuah game dan mendapat penghargaan meskipun itu vrtual juga menjadi hiburan yang berarti. Lahan ini akan subur jika peruahaan start-up ingin mencobanya.

Namun tetap, kembali lagi Danny mengingatkan bahwa startup harus fokus kepada satu bidang tertentu. Jika ingin mengembangkan game, fokus di game. Jika ingin mengembangkan aplikasi yang memiliki fungsi, seperti Instagram misalnya, fokuslah membuat aplikasi untuk foto.

Jadi, mengembangkan paltform media sosial dengan fokus kepada salah satu bidang tertentu sembari memikirkan penghargaan apa yang menarik bagi pengguna untuk tetap menggunakan produk kita merupakan cara startup bisa bertahan di tahun depan.

***

sumber : kompas.com

Sabtu, 25 Februari 2012

Entrepreneur Harus Inovatif, Bukan Replikatif

Indonesia, meski memang diakui sebagai salah satu pasar negara berkembang (emerging market) yang paling potensial di dunia, masih menghadapi berbagai macam persoalan dalam menyuburkan jumlah pengusaha seperti di antaranya keterbatasan modal dan akses ke sumber pendanaan dan lembaga keuangan. 

Selain itu, ditemui pula rendahnya kualitas SDM pelaku usaha, kemampuan pemasaran yang terbatas, akses informasi usaha yang masih rendah, dan belum terjalinnya dengan baik kemitraan Belum terjalinnya dengan baik kemitraan saling menguntungkan antar pelaku usaha (KUMKM, Usaha Besar dan BUMN). Demikian dinyatakan oleh Soetarto perwakilan Kementerian Koperasi dan UKM dalam Seminar Nasional “Mencetak Sejuta Lapangan Kerja dengan Usahawan“.

Sementara itu Antonius Tanan, presiden Universitas Ciputra Entrepreneurship Center menyoroti bagaimana kita tak hanya berupaya untuk menciptakan lapangan pekerjaan tapi juga harus menciptakan pengusaha yang akhirnya menciptakan lapangan kerja. “Namun, bagaimana kriteria seorang pengusaha atau entrepreneur yang bisa membawa bangsa ini menuju kemajuan?” ia bertanya kepada hadirin.

Antonius menjelaskan lebih lanjut bahwa entrepreneur itu harusnya yang bersifat inovatif. Entrepreneur inovatif, bukan replikatif (yang hanya meniru) atau necessity (yang terdorong karena kebutuhan, tak ada pilihan), adalah yang dibutuhkan bangsa ini menuju kejayaan.

Di sisi lain, Raja Sapta Oktonari selaku Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) menyatakan keprihatinannya karena pengusaha domestik belum sepenuhnya menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Apalagi di tengah derasnya serbuan investasi dan masuknya entrepreneur asing ke tanah air, kesadaran untuk tetap menjadi tuan rumah di negeri sendiri perlu ditingkatkan.

Akan tetapi ia mengemukakan pula beberapa alasan yang bisa menjelaskan mengapa fenomena seperti ini bisa terjadi. Raja menerangkan, ”Para pemanku kepentingan seperti perbankan di Indonesia masih belum mewujudkan keberpihakan mereka terhadap pengusaha dalam negeri”. Harus dibuka akses agar mereka pengusaha baru bisa bekerja lebih maksimal. “Bukannya kita pengusaha yang cengeng, tapi memang begitulah adanya,” demikian imbuhnya.

***

(Sumber : ciputraentrepreneurship)